Arti Penting Perpustakaan

Dewasa ini, baik pemerintah melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan, maupun oleh lembaga-lembaga non pemerintahan dan perguruan tinggi gencar melakukan pembenahan perpustakaan. Upaya ini dilakukan karena menyadari bahwa perpustakaan merupakan jantung ilmu pengetahuan. Dari perpustakaanlah ilmu pengetahuan dipompa ke seluruh dunia. Maka perpustakaan harus diperhatikan dan dikelola dengan sebaiknya. Walau agak terlambat namun masih lebih baik dari pada lebih terlambat lagi dengan melakukan upaya pembenahan perpustakaan pada esok atau kapan-kapan. Atau bahkan tidak melakukan apa-apa, perduli saja tidak. Untuk menggambarkan makna sebuah perpustakaan silahkan baca lebih lanjut tulisan berikut ini yang kami ambil dari www.mypesantren.com.

Ketika kita dengar kata perpustakaan, yang terbayang di pikiran kita adalah sebagai tempat peminjaman buku kalau sewaktu-waktu kita butuh referensi, hanya itu tidak lebih.   Namun pernahkah terlintas di pikiran kita bahwa perpustakaan itu pernah mengantarkan umat Islam menuju masa keemasan. Bahwa perpustakaan saat itu menjadi pusat ghirah aktivitas intelektual umat Islam sehingga marcusuar ilmu pengetahuan Islam menyebar ke seluruh pelosok dunia. Perlu kiranya kita menengok kembali bagaimana sebenarnya keadaan dan fungsi perpustakaan dalam sejarah perjalanan umat Islam di masa lalu, sebagai pembelajaran dan pijakan kita menatap masa depan.

Menurut Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam, perpustakaan menurut sistem ulama Islam dahulu, bukan saja tempat membaca, membahas dan menyelidik, bahkan juga tempat belajar berhalaqah, seperti di masjid. Dapat dipahami bahwa perpustakaan pada saat itu termasuk salah satu tempat pendidikan dan pengajaran. Hal ini berdasarkan keterangan Yaqut dalam kitabnya Mu’jam al-Udabak, katanya : dari Abul-Qasim bin Naqiya, ia masuk ke dalam perpustakaan “Darul Ilmu” Sabur, menemui Ibnul Fadhal Al-Majasyei’ Al-Magriby, sedang mengajarkan ilmu nahwu dalam perpustakaan itu.

Kemudian menurut Olga Pinto dalam bukunya Islamic Culture, seperti dikutip Mahmud Yunus dalam bukunya, ia berkata tentang perpustakaan Islam : “orang-orang Islam dahulu amat mementingkan pembangunan gedung-gedung perpustakaan yang disediakan untuk umum. Gedung itu diperlengkapi dengan beberapa bilik yang banyak. Di sebelah dinding-dindingnya dibuat rak-rak untuk tempat meletakkan buku-buku. Sebagian bilik-biliknya untuk tempat membaca dan sebagian yang lain lagi untuk halaqah pelajaran. Bahkan disetengah perpustakaan ada pula bilik untuk musik, tempat beristirahat bagi pembaca-pembaca. Semua bilik itu dihiasi dengan perhiasan yang indah, di lantainya terkembang tikar permadani yang cantik, sesuai dengan perasaan ketimuran yang suka duduk di lantai waktu membaca dan menulis………”

Dari keterangan Olga Pinto tersebut jelas bahwa umat Islam dahulu memprioritaskan pembangunan perpustakaan. Yang menarik bahwa gedung perpustakaan saat itu dibuat seindah dan senyaman mungkin, bahkan memperhatikan aspek kesenangan pengunjungnya, dengan kata lain perpustakaan pada saat itu mempunyai konsep bagaimana supaya orang betah berlama-lama tinggal di perpustakaan. Menarik juga diamati bahwa perpustakaan saat itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca, meminjam buku tapi juga sebagai tempat pengajaran.

Masih menurut Mahmud Yunus bahwa perpustakaan dalam sejarah Islam ada tiga macam, yaitu; perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan umum dan khusus. Perpustakaan umum diadakan di masjid, untuk dibaca oleh umum yang datang ke masjid. Begitu juga perpustakaan itu diadakan di madrasah-madrasah untuk tempat pembacaan bagi pelajar-pelajar. Perpustakaan umum ini sangat banyak, hampir tiap-tiap masjid dan madrasah mempunyai perpustakaan sendiri. Di antara perpustakaan yang termasyhur, yaitu; Perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad yang didirikan oleh khalifah Harun Al-Rasyid, Perpustakaan Al-Haidariyah di Najaf (Irak) disebelah makam kubur Ali bin Abi Thalib, Perpustakaan Ibnu Suwar di Basrah yang didirikan oleh Abu Ali bin Suwar, Perpustakaan Sabur didirikan oleh Abu Nasr Sabur bin Ardasyir, Darul Hikmah di Cairo (Mesir) didirikan oleh Al-Hakim Biamrillah Al-Fatimy.

Kemudian perpustakaan khusus diadakan oleh alim ulama dan ahli sastra di rumahnya masing-masing untuk dipakainya sendiri. Seperti perpustakaan Al-Fath bin Khagan wazir Al-Mutawakkil Al-Abbasy, perpustakaan Hunain bin Ishak (ia seorang dokter dan penterjemah pada masa Al-Makmum), perpustakaan Ibnu Al-Khassyah (ia seorang ahli dalam ilmu nahwu, sharaf, tafsir, hadits dan lain-lain). Yang terakhir adalah perpustakaan antara umum dan khusus, perpustakaan macam ini didirikan oleh khalifah-khalifah dan raja untuk memuliakan dan menghargai ilmu pengetahuan. Perpustakaan itu tidak terbuka untuk umum, hanya boleh masuk orang-orang besar dan golongan tertentu dengan mendapat izin yang khusus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: